Monday, 11 February 2019

Cerita SMA

Saya sedang mencari sebuah berkas lama di hard drive yang kemudian membawa saya menemukan berkas-berkas lama semasa SMA. Ini membawa saya pada sebuah potongan-potongan kecil memori akan masa silam. Menyenangkan. Saya masuk SMA pada 2013 dan keluar pada 2016. Pada pos kali ini, saya akan menceritakan cerita-cerita saya semasa SMA, mulai dari kegiatan saya di teater, film, dan kesenian rupa.

Pertama masuk, saya ada di kelas Sepuluh 2. Ini adalah kelas sementara untuk masa orientasi, yang setelahnya baru diarahkan sesuai peminatan. Pada masa orientasi ini, satu hal yang saya ingat adalah pada saat pertunjukan pentas seni di akhir masa orientasi. Saat itu, kami sekelas menari dengan iringan Gentleman dari penyanyi Korea PSY. Yang masih membekas dalam pikiran saya adalah, saya mengenakan tiga lapis celana dan saya melepasnya satu persatu sepanjang pertunjukkan; di tengah lapangan sekolah. Ini gila dan menyenangkan.

Setelahnya, saya masuk ke kelas Sepuluh MIPA 2. Sebelumnya saya memang memilih peminatan MIPA tanpa banyak pertimbangan. Sebagai gambaran, semasa SMP, saya adalah orang yang menyukai hampir semua ilmu pengetahuan yang diajarkan. Ini merupakan satu pilihan yang bisa untuk disesali maupun disyukuri.

Singkat kata, saya memilih dua kegiatan ekstrakurikuler: teater dan rohis. Teater saya pilih karena ini merupakan hal baru sebagai pengalaman. Saya tidak pernah tahu seni teater sebelumnya. Rohis? Awalnya karena saya ingin mempelajari 'filsafat'. Walau secara nyata, saya hanya menghadiri sekali kajian di rohis setelah kakak kelas, yang saat itu menjadi pembicara, menyesat-sesatkan suatu golongan. Saya tidak lagi hadir di rohis. Saya melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler teater.

Teater

Pada permulaan bergabung dengan kelompok Teater Mega, saya langsung ditawarkan untuk bergabung dalam proyek kolaborasi teater se-kabupaten; Teater Bimalukar. Saya menerimanya. Saya menerima tawaran untuk menampilkan sebuah monolog berjudul Perjalanan Kubur karya pelatih kami, David Bujel. Saya satu di antara tiga orang yang membawakan tiga teks monolog yang berbeda karya David, yang lain adalah Adde Okta dan Gisela Annur. Sementara satu pertunjukan utamanya berupa drama berjudul Sabda Pandita Wangon yang ditulis oleh teman satu sekolah saya, Sekar.

Kami berlatih sekira tiga bulan hingga malam penampilan. Mulai berlatih di area alun-alun kota hingga di gedung bekas Kadin. Pertunjukan diadakan di area terbuka salah satu sisi terminal dan terbuka untuk umum. Yang menjadi pengalaman berharga bagi saya pada malam itu adalah, saya yang memerankan sebagai mayat harus tampil hampir telanjang. Saya hanya mengenakan satu celana dalam putih yang kemudian dililit sedikit kain. Kelmpok pelajar ini kemudian ditawari untuk mengadakan pentas lain, ide awalnya adalah kampanye soal AIDS dan ODHA, namun tidak terlaksana. Personelnya tetap bergerilya termasuk pada malam deklarasi teater pelajar kabupaten. Malam itu saya hadir menonton.

Saya tetap aktif di Teater Mega, di dalam sekolah. Pertunjukan pertama saya adalah pada malam tahun baru, 31 Desember 2013 dalam naskah Biarkan Aku Memilihmu karya pembina kami Pak Darto. Malam itu saya menjadi pemeran pembantu sebagai seorang rapper sekaligus pacarnya sahabatnya sipemeran utama. Saya menyanyi rap dua verse di lagu Bojo Loro gubahan NDX AKA. Ini memang dimaksudkan untuk lucu. Hehe.

Pertunjukan kedua saya ada pada 24 Mei 2014 pada penutupan Festival Drama Akhir Tahun sekolah. Ini seperti agenda tahunan di mana tiap kelas peserta menampilkan dramanya masing-masing. Kami sebagai 'pembantu acara' akan menampilkan pertunjukan penutup yang diteruskan dengan penganugerahan drama dan aktor terbaik. Pada pertunjukan ini saya menjadi satu dari tiga pemeran utama dalam naskah Takdir karya (anaknya) pembina teater. Saya menjadi orang cacat yang meninggalkan anak istri untuk bekerja di kota. Singkatnya, si istri sialan ini malah nikah lagi pas ditinggal!


Dalam acara Drama Akhir Tahun ini kami selaku 'pembantu' selalu asik mempersiapkan set. Ini yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Ini diadakan satu bulan dan tiap pekan ada dua hari untuk pentas. Sehingga dalam sepekan, kami bongkar pasang set di aula sekolah sekaligus memastikan semua siap melalui koordinasi dengan tim (penampil dan crew peserta).

Pertunjukan saya selanjutnya ada pada pertunjukan teatrikal guna promosi ekstrakurikuler di masa orientasi siswa baru. Yang saya ingat pada pertunjukan itu adalah gambaran penguasa yang bengis yang mana ia menginjak-injak orang untuk melanggengkan jalannya.

Pertunjukan selanjutnya adalah sebagai tindak lanjut proyek pertunjukan tahun baruan. Namun melihat tahun sebelumnya tidak begitu ramai karena masih dalam masa liburan, maka kami mengganti tanggal pertunjukan pada pekan pertama setelah liburan, 10 Januari 2015. Ini adalah salah satu milestone bagi saya secara personal.

Pada pertunjukan ini, pembina benar-benar menaruh semuanya pada anak-anak. Berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan sebelumnya yang mana pembina memberi naskah dan menyutradarai, kali ini semua gagasan diserahkan pada anak-anak; sebagai sarana latihan menulis dan menyutradarai. Saya diberi kesempatan untuk menjadi sutradara. Karena itu, saya puas-puaskan. Dari lima pertunjukan, saya menulis dan menyutradari empat. Boleh dibilang semua karena satu pertunjukan pembuka merupakan persembahan pengurus demisioner.

Pada pertunjukan ini, kami mengajak ekstrakurikuler musik untuk bekerja sama. Karena itu, saya membayangkan set yang paling mudah untuk dibuat yakni cafe dengan satu panggung musik. Dengan begitu, penataannya bisa lebih efisien dengan satu panggung permanen. Naskah yang saya tulis berupa drama musikal berjudul Melangkah yang terinspirasi dari lagunya Raisa. Dengan konsep ini, saya membuat daftar penampilan layaknya menu di Cafe, begitu pula pada tiket yang dijual.

Pada Apetizer ada Bingkai Bergambar, pertunjukan demisioner yang ditulis oleh Danov Setyo. Pada Entree ada Baladaku Baladamu dan ".....". Baladaku Baladamu adalah teks monolog yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya mendengarkan lagu dari Superglad dengan judul yang sama. Inti ceritanya hampir sama dengan lagu tersebut. Monolog ini dibawakan oleh Wulan yang kala itu sangat semangat untuk tampil menjadi orang gila (yang susah move on). Sedangkan naskah kedua, yang awalnya saya beri judul Mamah Papah, saya tulis bersama si penampil Adhini Adha. Judulnya diganti atas permintaannya dan demi kenyamanan ia dalam menampilkan monolog. Ini memang agak menggelitik karena menceritakan perempuan SMA dari keluarga yang tidak harmonis di mana ia lantas menjadi pekerja seks.

Saya masih menyimpan naskah Melangkah. Ini yang saya tulis sebagai sinopsis:

Nana menjalin hubungan dengan Rama. Dinda adalah teman dekat Nana. Suatu hari Nana meminta Dinda untuk menemaninya bertemu Rama. Pada saat itu, Dinda mulai jatuh cinta pada Rama. Namun Dinda hanya bisa memendam rasa itu. Pada suatu saat, Rama sedang bersama Donny, temannya. Mereka kemudian menceritakan tentang Dinda. Karena Donny masih lajang dan sedang mencari kekasih. Pada suatu saat, Rama, Nana, Dinda, dan Donny bertemu bersama. Donny mulai tertarik pada Dinda. Tak lama, Donny dan Dinda jadian. Namun Dinda menerimanya bukan karena dia menyukai Donny, hanya karena Donny teman dekat Rama, hanya Donny tidak mengetahuinya. Iman Rama melemah, hingga dia mulai bermain jangkrik dengan Dinda yang memang selalu berusaha mendekatinya. Hingga Nana mengetahui hal itu dan menceritakannya pada Donny. Mereka berempat bertemu bersama, dan terjadi perbincangan hebat antara mereka berempat. Hingga akhirnya hubungan persahabatan mereka benar-benar hancur. Akhirnya Rama menjalin hubungan dengan Dinda, sedang Donny dan Nana memilih untuk tetap melajang.
Pada naskah ini saya menempatkan beberapa lagu untuk bagian musikalnya, yakni: Merindu Lagi - Yovie and Nuno; Inikah Cinta - M.E; Cinta Butuh Waktu - Vierratale; Orang ke-3 - Hivi; Mars Jangkrik - Souljah; Takkan - Ten2five; Serba Salah - Raisa; Demi Waktu - Ungu. Kamu bisa membayangkan bagaimana pertunjukkannya. Terima kasih untuk Salsabila Zain, Amy Istiqlala, Muhammad Hafidh, dan sebentar.. satunya siapa ya? apa benar Khafid 'Coles' Fitri vokalis band SMA?

Yang terakhir, Dessert, puisi Perjalanan Kerlap-Kerlip yang saya tulis dan saya bawakan sendiri. Benar-benar rakus! Saya tidak berlatih karena memang fokus pada tiga pertunjukan yang saya urus. Bahkan puisiitu saya tulis sepekan sebelum hari pertunjukan. Yang saya ingat pada deklamasi saya pada malam itu adalah pakaian yang saya kenakan: baju koko dengan kalung tasbih, celana pendek di atas lutut, dan kaus kaki tinggi sebetis. (Pakaian ini saya kenakan juga pada penampilan monolog Cita-Cita Kemarin Sore 2016 di kampus)


Dengan sengaja aku masuk ke dalam jeruji besi, / Hingga saat kemudian aku benar-benar ingin kabur.
Matahari pagi itu dingin dan aku kehilangan cahaya / Saat nenek tua itu bicara “Berikan cincin itu maka aku beri kau seratus ribu rupiah”. / Untuk apa atau apalah arti cincin dan seratus ribu rupiah / Dibandingkan dengan kebahagiaan saat aku boleh menelan bara api. // Saat rambut ini terkibas, “Kau tampak jelek, Kukumu panjang dan hitam”/ Nenek memberiku senyum seharga lima ratus rupiah. / Semoga tidak pernah diajakarkan untuk menyuap oleh guru / Atau menjadi sisa, serpihan, atau sampah darinya. // Aku pulang gelap, bohlam itu tampak lebih terang / Aku menapakkan kaki lebih ragu, “Nenek, Kakek.. apakah aku tersesat?”. / Besok pagi aku harus berangkat memikul bekas kayu / Tidak ditemani tujuan. Aku hanya ingin nenek bahagia. // Kakek tua itu sempoyongan mendekati / “Dimanakah jiwa? Apa yang baru saja kau dapat? Hanya goresan tinta merah ini? / Maukah kau belajar agama?, Bergerilya mencari Tuhan?, Membahagiakan diri akan dunia akhirat?”. / “Maukah kau membuka matamu malam ini?”. // Hari itu aku masih berlari-lari kecil dan temanku melemparku batu merah, / Hanya meneteskan sedikit air mata “Nenek, aku ingin berkelahi” / “Aku tidak mengajarkanmu untuk hidup mudah, aku hanya ingin kau menjadi kuat” / “Pada kuncup-kuncup harapan, aku ingin kau berwangi dan takberduri”. // Batu itu benar-benar dipecahkan gelap malam, / Aku ingin dilahirkan kembali.

Setelahnya saya masih aktif mengurus Drama Akhir Tahun dan tentu membuat teatrikal promosi ektrakurikuler. Penutupan Drama Akhir Tahun tahun ini menampilkan penampil terbaik Drama Akhir Tahun yang lalu. Sedangkan teatrikal yang saya buat berupa gambaran nafsu-nafsu yang mengitari orang-orang: lawan jenis, kekayaan, dan minuman. Gambaran Drama Akhir Tahun bisa dilihat di sini: Oh My God. I Think I Was A Good Photographer

Film

Saya tidak pernah mendaftar ekstrakurikuler film melainkan diajak oleh teman yang ada di sana karena katanya mereka butuh editor. Sebelumnya 2012-2013 saya membuat seri prank lucu-lucuan Shocking Sunday di Youtube (saat itu inspirasinya adalah Happy Holiday Indonesia). Salah satu teman yang tergabung dalam pembuatan seri itu adalah Muhammad Hafidh yang merupakan orang yang mengajak saya bergabung dalam ekstrakurikuler film Smansabara Film School (SFS).

Setiap perayaan ulang tahun sekolah selalu diadakan Smansabara Short Film Festival. Sebelumnya memang ada pemberian gambaran awal, semacam edukasi mengenai film pendek dengan menayangkan beberapa film pendek. Yang saya masih ingat pada saat itu adalah Aku Kudu Piye Tweeps (Luhki Hermanayogi) dan Shelter (Ismail Basbeth). Pada saat itu saya ada gambaran sedikit tentang film pendek karena saya sering dicekoki film-film pendek oleh kakak, terutama film-film dari LA Light Indie Movie

Tahun pertama, kelas Sepuluh MIPA 2 membuat film lucu-lucuan saja. Tujuannya hanya untuk menghindari pinalty kompetisi saja, alias asal kirim. Kebetulan salah satu teman dalam Shocking Sunday ada yang satu kelas dengan saya, Yanuar Valid. Jadilah sebuah film lucu-lucuan.

Setelah saya masuk dalam ekstrakurikuler film saya mulai serius untuk mempelajarinya. Masih diingat pada awal-awal saya sebagai anggota, SFS mengadakan pelatihan penulisan naskah dengan menghadirkan perwakilan komunitas Godong Gedang. Ini benar-benar pengalaman berharga di mana saya mendapat pelajaran soal menulis naskah mulai dari premis, sinopsis, hingga pada skenario. Tidak hanya diajari soal teknis penulisan, kami juga disuruh praktik. Saat itu saya menulis naskah soal pelukis yang modus untuk melukis wanita telanjang hingga ia jatuh cinta. Terlalu porno untuk ditulis anak SMA kelas satu. Saya mau berterima kasih untuk Mas Hadi Saputra (Ringgo)  dan Mas Galih Prabowo yang sudah bagi ilmunya pada saat itu.

Setelahnya anak SFS meminta bantuan Godong Gedang untuk merumuskan SSFF tahun depan. Tahun 2014, kami memakai nama Festival Film Gebrag, yang akhirnya diprotes oleh pihak sekolah. Saya ditugasi sebagai proyeksionis saat pemutaran dan pembuat konten-konten pendukung macam logo dan bumper dan nominasi.

Ini gambarnya sudah rusak. Aslinya tidak begitu.

Ini sungguh pengalaman menarik bagi saya sebagai proyeksionis ketika saya duduk seharian di hadapan list 28 film; memastikan bahwa di layar selalu ada logo, tidak ada bocor visual (macam pinbar apalagi kerja latar belakang), dan tentu memastikan agar visual dan audio bekerja dengan baik. Festival Film Gebrag berjalan lancar hingga malam penganugerahan.

Pada tahun ini saya dan kawan-kawan membuat film berjudul R. Kebetulan mendapat dua penghargaan, film terbaik kelas sebelas dan special mention dari juri. Sumpah ini bukan nepotisme karena saya 'pembantu' festival. Ya tahu lah, anak SMA kalau membuat film bagaimana. Harap maklum.


Film R juga sempat masuk nominasi Festival (lomba kali ya) Film Pelajar Banjarnegara. Pada saat itu saya mewakili tim mempresentasikan film ini. Saya cukup keras membicarakan isu lingkungan pada saat presentasi dan tentu menyerukan soal reklamasi teluk benoa (film ini terinspirasi penuh oleh video musik Belati Tuhan dari Superman Is Dead). Hanya kami tidak pulang membawa piala. Tapi saya puas omongan saya bisa didengar oleh perwakilan dinas pariwisata. Film ini juga pernah diputar dan didiskusikan di homebase Godong Gedang yang mana mengundang pelajar-pelajar dari sekolah lain. Enak saja waktu itu bisa diskusi bareng teman-teman sesama pelajar, termasuk mendiskusikan tayangan-tayangan sampah di televisi.

Pada tahun ini, saat saya ada di kelas sebelas, saya diminta mewakili kabupaten untuk mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi. Ini adalah kali pertama FLS2N menghadirkan cabang film pendek. Susahnya, kami tidak bisa menduga akan membuat film seperti apa karena lokasi pengambilan gambar baru ditentukan oleh panitia pada hari-h. Sialnya, tim pembuatan film hanya terdiri dari dua orang; saya dan Hafidh. Sungguh tidak masuk akal. Dengan meraba-raba, kami mencoba membuat naskah yang paling bisa untuk dieksekusi di tempat seperti apapun. Syukurlah kami tidak menang, bisa-bisa kami akan makin sengsara untuk membuat film dengan cara seperti ini lagi.

Karena SFS buntu untu memproduksi film seperti apa sekaligus pembina juga fokus pada kami berdua untuk FLS2N, kami anak-anak berinisiatif untuk membuat video-video aftermovie. Pada tahun kepengurusan saya, paling tidak ada dua video yang kami garap yang mana saya bertindak sebagai editor. Maaf ya, skil editing saya waktu itu cuma segitu. Harap maklum.

1. Final Liga OSIS. Susah sialan lensa tele cuma 1.


2. Sinau Musik. Workshop yang diadakan oleh extrakurikuler musik. Sumpah, saya tidak menyangka Deffa nyanyinya sebagus itu.


Tahun 2015 saya membuat film berjudul Rokumpet dan kalian bisa baca ceritanya di sini: Rokumpet: Responding The Space of Playing.

Ini bukan nepotisme juga, tapi film ini juga mendapat piala di Smansabara Short Film Festival tahun itu. Pada tahun ini nominasinya bertambah tidak hanya pada film melainkan juga pada penyutradaraan, penulisan naskah, editing, dan sinematografi. Kalau saya tidak keliru, film ini mendapat piala untuk film terbaik dan apa gitu saya lupa. Ada banyak piala sampai saya merasa tidak enak sama teman-teman lain karena dua tahun film produksi kami terasa rakus yang mana saya juga terlibat sebagai 'pembantu' festival.

Sialnya film Rokumpet ini tidak balik modal. Biaya produksi lebih besar dari hadiah dari semua nominasi yang didapat. Intinya dari uang yang disepakati oleh kelas masih kurang untuk membayar talen dan konsumsi, sehingga saya dengan moral saya sebagai tetangganya para talen ini harus nombk. Ya sedikit sih, tidak sampai seratus ribu.

Film ini juga sempat diputar di acara Sinemampir yang diadakan oleh Godong Gedang tempo hari. Saya berharap film ini bisa diputar di kampung halamannya sendiri, hanya selama ini belum menemukan proyektor saja.

Seni Rupa

Saya tidak pernah secara resmi tergabung dalam ekstrakurikuler seni lukis. Tapi saya pernah sekali mengikuti latihan rutin mereka. Ya saya memang anaknya sedikit usil waktu SMA.

Dalam tulisan ini, saya sudah pernah menceritakan bahwa saya suka menggambar sejak SMP: How I Make Pictures Time to Time. Namun dalam tulisan itu sedikit disinggung soal bagaimana saya berkesenian rupa semasa SMA terutama yang berkaitan dengan sekolah.

Pada 2013, saya diajak untuk masuk ke tim lomba yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Saya masuk tim lomba desain poster. Pada tahun itu, poster saya lolos tahap seleksi dan berangkatlah untuk lomba lanjutan. Pada tahun itu, keterampilan ilustrasi saya memang buruk karena selama itu saya hanya main trace dan dekoratif-dekoratif lain dalam seni digital. Untungnya pada saat itu saya menang sebagai juara pertama. Setelahnya saya semacam dipercaya untuk mengikuti lomba-lomba desain poster lain.

Untuk lomba tersebut di atas, saya mengikuti setiap tahun. Tapi tahun-tahun berikutnya saya tidak menang. Pada 2014 ada cerita menarik. Saya membuat tiga gambar dan salah satu teman satu tim saya hanya membuat satu. Aturan lomba, masing-masing peserta boleh mengirim dua gambar. Maka satu gambar milik saya, saya berikan atas nama teman saya ini. Yang menarik adalah, ternyata gambar saya yang saya berikan itulah yang lolos, ia berangkat, saya tidak. Ketika di sana, ia menang dan akhirnya dia memberi saya sebagian hadiahnya. Sebuah pengalaman yang menyenangkan. Tahun 2015 kami berdua lolos, tapi tidak menang. Ya mungkin gantian, lah ya. Hehe.

Satu tahun setelah FLS2N film, saya berangkat untuk cabang desain poster tingkat provinsi. Ini karena teman saya yang satu ini (tersebut di atas), pada tahun sebelum sudah menang dan sudah sampai tingkat nasional, sehingga ia tidak boleh lagi mengikuti. Giliran saya. Bodohnya saya, saya tidak membaca tema perlombaan secara cermat, sekilas saja. Sehingga konsep poster saya benar-benar jauh dari tema dan saya menyadarinya pada saat hari-h saat saya membaca ulang teknis perlombaannya. Yang semestinya soal "budi pekerti" saya pikir "budaya membaca". Jauh? Memang. Sehingga saya tidak berhasil mendapat juara di provinsi.

Ini gambarnya sudah rusak. Aslinya tidak begitu.
Saya juga pernah mengikuti lomba desain poster manual di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, tapi tidak menang. Selebihnya saya pernah dimintai untuk membuatkan poster akademik untuk esai, ada dua: soal penggunaan zeolit dan kaitan tanaman keras dengan longsor. Saya juga pernah membantu pihak sekolah membuat poster dan brosur penerimaan peserta didik baru. Waktu itu saya dibayar nasi padang. Lumayan.

Yang menurut saya menarik dari kisah kesenian rupa saya semasa SMA justru bukan yang berkaitan dengan akademik, melainkan di luar itu, meski tetap bersinggungan dengan sekolah. 

2014, saya membuat desain kaus yang saya tujukan untuk pendukung tim olahraga yang bertanding di pekan olahraga. Waktu itu saya membuat dua rancangan dan saya tawarkan kepada teman-teman lewat unggahan di Instagram. Saya memilih kata cheerleader guna membawa suasana yang fun dan cute. Tentu saya menjauhi kata semacam ultras atau hooligan dan bayangan akan kelompok yang sangar dan penuh kekerasan.

Ini merupakan gambar derivative yang mana saya tidak pernah meminta izin pada pembuat awal

Teman-teman banyak yang antusias. Dengan pertimbangan efisiensi produksi akhirnya saya putuskan untuk memilih gambar perempuan di ring basket, putih di atas hitam. Saya bersama Hafidh (lagi-lagi dia) mensosialisasikan proyek ini ke kelas-kelas. Anak-anak kami minta untuk mengumpulkan kaus hitam mereka untuk disablon dengan biaya seiklasnya. Saya membuat filmnya di rumah dan meminjam peralatan sablon milik kakak untuk afruk. Tinta kami beli dari uang patungan bersama. Pada saat itu, pihak sekolah tidak tahu karena saya tidak pernah izin atau koordinasi kepada pihak sekolah. Ini menyenangkan saat saya dibantu teman-teman menggesut lebih dari seratus kaus semalaman di rumah.

Itu adalah saat saya mulai menggambar di jalan. Maka dari itu, saya mengajak teman-teman untuk menggambar di jalan. Tapi lagi, saya selalu merencanakan gambar ini untuk menjadi fun dan cute tanpa ada unsur sangar dan penuh kebencian. Saya masih ingat malam itu kami membuat tulisan "Make Proud Not War" di salah satu dinding di kota sekira 2x3 meter; yang hanya bertahan dua malam. Huft.

Saya memang usil, dan ini membawa bencana. Dengan style rupa yang sama, saya mencoba untuk membuat gambar dengan memanfaatkan tanda-tanda khas sekolah lain. Formulanya sama: perempuan dan permen. Sialnya, alih-alih ini menjadi sebuah hal yang fun dan santai, saya dicari-cari oleh anak-anak tiga sekolahan. Mereka tidak terima jika saya menggambar hal yang sama dengan apa yang saya lakukan dengan nama sekolah saya. Masalah ini berat bagi saya. Saya diminta untuk meminta maaf di depan ratusan anak-anak di tiga sekolah berbeda, atas dasar pencemaran nama baik dan pembuatan konten pornografi. Masalah selesai setelah saya mengaku salah, meminta maaf secara terbuka, dan menandatangani surat pernyataan. 

Setelahnya, saya membuat desain berbeda untuk keperluan kelompok pendukung tim sekolah. Namun kali ini saya dihajar habis-habisan oleh pihak sekolah karena saya tidak izin dalam menggunakan logo dan nama sekolah. Sialnya lagi, tim basket sekolah menggunakan desain yang saya buat untuk dicetak pada kaus mereka tanpa sepengetahuan saya. Saya diberi tahu oleh salah satu kawan di perempatan saat lampu merah. Saya hanya bisa menggerutu, tidak bisa meminta apa-apa apalagi nasi padang. (Bodo. Gambar yang saya buat ini plagiat dari angkatan udara AS). Apes. Saya sudah merasa tidak aman untuk keluar sekolah dan di sekolah saya dihajar. Saya memutuskan untuk tidak mendukung tim sekolah. Ini merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupa. Saya belajar banyak dari sini. Soal etika seni rupa terutama hak cipta.

Ada yang belum tertulis soal pengalaman saya menjadi petugas upacara. Tapi itu tidak penting. Pada akhir SMA, pada saat pelepasan saya membantu panitia untuk membuat logo Kelas Rolas Award dan motiongraphic-nya. Di sini saya menggambar Awal, orang paling di-bully di sekolah, sebagai ikon award. Dan yang penting pada saat pembacaan janji alumni saya diam.

Wednesday, 6 February 2019

The Significance of Art Exhibition


From the age of Plato to Leonardo to Picasso, people have acted differently responding arts. Yet, there is one key that remains same all time long, that art makes people think and act.

One day I went to a small art exhibition. I listen to every ‘speech’ the artist gave in the discussion session. All of them talk about their feeling and fidgetiness from personal to interpersonal. I never surprised at the way artist express their feeling through art making, because it is obviously the core. However, I spot on one important key to the discussion: How to overcome all of the problems the artists have. In a simple word: Yes, you got the problem and try to communicate it through your art, and after that, what?

I see it is important for humanity to always held an art exhibition. I will not talk about the way we get our needs of aesthetic, but further, to live as a human.

In an exhibition (a traditional one or a new era) artist let all kind of people with a different background in. At this time, the discourse of the art-making is given to the public. Here, I highlight that it is important to get all different people with a particular background to participate, not only one niche target. Why? To take care of the public discourse. If the artists can their story not only to their fellas but also to a stranger, how our society respond to the story will be varied.

I hate a contemporary art that it ends to the art itself. I think that it can go more than ceremonial stuff of exhibition and a fulfilling of people’s need for aestheticism (especially to take a pic with). That the problem given to the public should be continued for the sake of humanity. That's the significance of an art exhibition. Good art is an art with a strong background study so that the artist has a strong purpose why they do such a thing. Because of the strong background, the artist, at least, will have a way to overcome; not to say a solution, but another story that can lead the public to go with the arts. In other words, the public will think and act based on their experience.

And I think, it's the time for us (including me myself) to give more interest to this kind of situation. Don't you feel bored to see meaningless art in your phone gallery in front of which you take a picture with?

Sunday, 27 January 2019

My Best Indonesian Music Video



Recently I post about music. Now I think it's the time for me to share my best Indonesian Music Video. As always, I share it hoping that you will discover something that may be new. If you already agree, well we're a friend.

I make the list based on the music itself and the relation to the visual stuff to make it a whole artwork. Focus on the visual itself, I appreciate the most to the cinematography but not limited to the actor, the aura of the visual, the supportive sign, and external values. So here they are:

1. Dubyouth - Roots
Director: Yohanes Catur Nugroho & Heru Wahyono

We can give five stars to the mapping and the content of the mapped video. However, there's more thing to be appreciated that we can have experience of dark dub and jungle music in line with Jogja. To let the Becak and Jaranan dancer into the video is a means to tell the story about what we call as Roots.



2. Indische Party - Ingin Dekatmu
Director: Rita Yossy

I love this video because it's simply cute. We can enjoy the condition of longing, long distance relationship, and loneliness calmly. What makes it interesting is that the panorama totally out of my imagination about my visual experience of the city building or highway in Jakarta.



3. Ras Muhamad - Bambu Keras
Director: Erick EST

The video has fulfilled all of the requirement to make a good video. It's all about the desire of Ras and Erick. The synthesis from all of the visual form and the song already fit one whole work.



4. Kimokal - Under Your Spell
Director: Rizky Firdaus

One thing that I think the most important in this artwork is the actor's expression. All of the expressions then supported by the camera placement and the setting.



5. Stars and Rabbit - Man Upon The Hill
Director: Bona Palma

We agree about The House. However, this one is more, at least for me, satisfying. I start to think from symbolism and go further to recent visual art discourse and postmodern music,  so I will say "Okay" to why they make such a thing. There are too many things to be discussed. But I think, we can enjoy anything without a must to make it a sense.



6. Tulus - Ruang Sendiri
Director: Galih Mulya Nugraha

I will say the same as Kimokal - Under Your Spell.



7. Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku
Director: Dadang Pranoto

I will say the same as Indische Party - Ingin Dekatmu, but it has a different story. The similarity is it's calming and cute.



8. The Working Class Symphony - Satu Jiwa
Director: Ryo Widagdo

I think it's the best video for football team anthem I know so far. It gives a feel of romantic. Every part of the team was involved and how to capture the moment is suitable, that's why it's best.



9. Endah N Rhesa - We
Director: Endah N Rhesa

One thing that makes this video succeeded is it has a lot and representative stock. We can appreciate the editor by simply put the slow motion to some footages. Same as before, it gives a feel of romantic, and humanist.



10. Shaggydog Feat. Iwa. K - Putra Nusantara
Director: Sidharta Tata

I love how they make the 'big' story simple. We can see all of the sign (even we need to have some kind of social experience) placed in the visual and that's what makes the work succeeded. Addition, it also gives more feel of Jogja; the other side of Jogja.

Friday, 25 January 2019

It's Fun to Share Playlists

Days ago I made a play on my Instagram Stories. I asked my friends to give me six words and I will make a playlist on Spotify to them. So here they are:

1. First, before I asked for my friend's word, I had already made a playlist for one of my friends.



2. This is the first playlist based on my friend word. Actually, he gave nonsense words related to the stinky water flow and I just made it because of he's my neighbourhood friend, and I know his kind of singing.



3. He gave me the words: kemanusiaan, peradaban, sosial, kepercayaan, akal, bebas



4. I forget what words she gave me, but at this phase, I tried to make some jazzy and beautiful sounds.



5. I made it some pop musics I like to my 'gaga' friend. 1 easter egg.



6. I made it a playlist of 69's, black musician works, and some Britpops.



7. I gave her a playlist of romantic jazzy sounds I like.



8. He walks down the street alone, so I gave him the playlist.



9. What I think when I hear red lipstick, calming and drowning sounds.



10. She asked me some anarcho//feminist sounds, so here there.



11. Technos for a long night. You will get sleep after the dawn.



12. Something loud, jazzy, and reggae-ish. I recommend him Tim Timebomb and Friends.



13. Best K-Pop I know, so far.



14. Thank God for the good music!



It's fun to interact with friends on the internet, I learn to know my friends as well as me myself. At least I know that I have some friends that care about the play.