A BLOG BY

ADHY NUGROHO


Ketika saya pertama kali merumuskan Greenish Faker, saya memang tidak berhadapan pada wacana penciptaan keindahan (yang baik). Anggapan itu bukan berdasar pada saya yang anti dengan keindahan. Bagi saya keindahan bersifat kekal, perwujudannya saja yang berbeda. Maka untuk menghindari pemahaman yang berbeda dari khalayak, terutama teman-teman dekat saya, maka saya akan mengatakan bahwa ini bukanlah keindahan. 

Maka, mari kita mulai dari Für Elise. Apa hal yang bisa membuat sistem bunyi yang demikian berkaitan dengan system wording yang menghasilkan dua kata: Für Elise? Sistem bunyi tersebut menjadi begitu abstrak. Bahkan, tanpa peduli siapa itu Elise dan segala kenyataan yang mungkin berkaitan dengannya, bebunyian itu, bahkan sebagai komposisi yang tertulis, akan tetap berdiri sendiri. Eksistensinya tidak terbantahkan meski rujukannya tidak begitu jelas. 

Kita mungkin tahu, dan setidaknya setuju, bahwa pada akor minor ada kesan yang terasa nestapa, sedih, dan mayor yang beraura senang, gembira, sederhananya seperti itu. Kemudian orang membuat progresi-progresi melodi dan harmoni dengan tujuan akan pencapaian keindahan tertentu. Sehingga nantinya, sebuah bebunyian tak hanya memberi nilai signifikasi pada si pembuat, melainkan juga pada pendengar. Mungkin ini terlalu abstrak bagai langit siang yang harus berwarna biru. Itu sabda alam. Meski kadang kita hanya bisa menerimanya saja, kita sebenarnya bisa saja memahami segala alasan yang ada di balik penciptaan warna biru pada langit siang. Juga ciptaan manusia, yang tidak hanya bermodal materi, melainkan juga aspek psikis. Keindahan bebunyian Für Elise pasti bermakna bagi penciptanya, juga segala hal lain yang mungkin mengikuti. Juga itu akan bermakna bagi para pendengarnya, juga segala hal lain yang mungkin mengikuti.

Lantas orang menyanyikan syair. Kepadatan bebunyian itu lantas diurai ketika orang mulai menambahkan syair. Lagu menjadi lebih kaya modal: bebunyian itu, dengan segala konsesi yang sudah melekat akibat perkembangan budaya, dan tuturannya. Dengan pemahaman sistem bahasa yang kita ketahui, makna dari syair itu menjadi mudah ditangkap. 

Meski Pete Seeger hanya memainkan banjo dengan progresi yang sederhana saja, ketika ia menyanyikan lagu yang ditulis oleh Floerence Reece, Which Side Are You On, kita bisa menangkap sesuatu. Lagu itu ditulis pada 1930-an, dan dinyanyikan oleh Seeger pada 1960-an, tahun-tahun perang baik militer maupun pengaruh (ideologi). Ide revolusi kaum buruh memuncak, termasuk perkembangannya di Amerika. Kita bisa menangkap secara sederhana, apakah kamu kiri atau kanan? Dan wacana revolusi kaum pekerja pun disuarakan.

Kini, apa arti “Xvy6!ghA” yang pernah saya buat? Kita tidak memahaminya hanya dengan bermodalkan lexeme. Pendekatannya memang sangat artifisial, semacam “UCov8-91Rrpx9lFRlomiVhhg” yang ternyata oleh program buatan Youtube juga diasosiasikan dengan “adhynug” yang merujuk pada kanal milik saya. Ini tidak arbitrer dan saya punya hak untuk menciptakan ini. 

Terlepas dari itu, ketika benda aneh itu sudah berdampingan dengan bunyi tertentu, dan visual-visual yang dapat kita tangkap, kita dapat memahami bahwa ada sesuatu di sana, kita mengakui eksistensinya. Kini eranya multimodal. Media penyampaian gagasan semakin kaya, ruangnya makin luas, lebih inklusif. Maka kini eranya Video Musik sebagai moda penyampaian gagasan. Mungkin kini sudah saatnya kita meninggalkan anggapan bahwa benda ini adalah sebuah high art yang ekslusif.

Kita bisa menikmati sebuah karya dari Ras Muhamad (dan tim), Bambu Keras, pada platform Youtube. Ini bukan lagi hanya sekadar bunyi dan syair yang dituturkan menggunakan bahasa, melainkan juga sajian visual, dengan segala tanda-tandanya, dan juga interaksi. Visual-visual pendukung yang dikemas secara bebarengan bersama bunyi dan tuturan akan membuat ruang itu makin luas. Ya, ruang itu hanyalah ruang, kosong, netral, dan bebas. Ras bebas untuk memasukkan visual perempuan telanjang, benda langit yang jatuh, atau dirinya yang bernyanyi dengan mengenakan kaus Bali Tolak Reklamasi. Dan itu yang tadi saya maksud, ruang kosong itu kita yang mengisi, wacana ada di tangan pencipta. Kita bisa perkaya dengan memaksimalkan segala modal yang mungkin bisa bekerja sama (termasuk kesempatan dan kemampuan interaksi bahkan partisipatori) selama kita rasa itu masih relevan.

Tapi kita, atau paling tidak saya, tidak memaksakan kehendak, dan interpretasi mesti terbuka sebebas-bebasnya. Apakah orang bisa gagal atau sedikit kurang berhasil? Saya tidak peduli. Apapun bentuk masukannya, itu pasti akan berpengaruh padanya. Apa saja.

Gambar: Tsamara saat berpose di depan kantor polisi. Saya lupa pada saat apa, hehe. Tulisannya saya edit. Semoga saya tidak dilaporkan atas pelanggaran hak cipta apalagi pencemaran nama baik. Huft.

Ahok dipenjara. Katanya ia telah melakukan penodaan terhadap agama Islam dengan, katakanlah mempergunakan dengan tidak benar salah satu ayat dalam Al-Quran. Ia menyampaikannya di hadapan masyarakat, yang intinya mungkin seperti ini: "Jangan mau dibodoh-bodohi dengan ayat supaya tidak memilih pemimpin yang tidak seiman". Anda mungkin memiliki interpretasi lain, namun dalam hal ini, itulah interpretasi saya.

Kita bisa melakukan analisis, baik hanya sebagai penerima teks singkat yang dituturkan Ahok, atau secara sadar berempati sebagai seseorang yang memproduksi bentuk retorika itu. Maka dari itu, kita tidak bisa melepaskan konteks pada saat teks tersebut diproduksi. Katakanlah, itu diproduksi pada masa kampanye; sebagian masyarakat pemilih beragama Islam; lawan politiknya beragama Islam; lawan politiknya memiliki basis pendukung dari beberapa organisasi massa Islam; atau memang di masyarakat terjadi praktik dakwah dengan penggunaan ayat tersebut dengan tujuan tertentu.

Dengan tujuan mendapat suara pemilih dan memperhatikan konteks, maka retorika Ahok berguna, praktikal. Juga sebaliknya, dengan konteks yang ada, lawan politiknya membangun diskursus baru, yakni Ahok telah melanggar norma, baik agama maupun hukum (yang kebetulan memang ada). Atas dasar ini, setelahnya, pertukaran ide dan rasionalitas mereka sebagai pemilih berkutat pada hal semacam pemimpin Islam atau tidak Islam dan penoda agama dan yang terzalimi. Pertukaran ide menjadi tidak lebih substansial dari itu. Beberapa orang mungkin akan merasa diremehkan, bagaimanapun juga, mereka terpaksa memindahkan (jika tidak ingin menyebut menurunkan) parameternya pada level dimana diskusi publik berada.

Hal yang sama terjadi pada Rocky dengan kata "Fiksi"-nya. Dengan konteks yang ada, katakanlah ia adalah orang dari kubu oposisi pemerintah (tanpa perlu pemetaan, saya anggap kita sudah tahu bagaimana hubungan-hubungan ini terbentuk) seolah ini menjadi bentuk balas dendam. Akhirnya, keduanya hanya berkutat pada pemaknaan yang dipaksakan dari masing-masing kubu. Diskusi tidak lagi dilanjutkan dan nihil progres karena publik akan kembali pada permasalahan makna, menghiraukan konstruk yang dibangun dengan segala kondisi yang sudah dikemukakan oleh penutur. Dengan kata lain, publik tidak peduli lagi pada substansi, pada sense, pada ide, malahan memanfaatkan struktur formal (dan logika) Bahasa untuk mencari kesalahan dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kepentingan politik praktis.

Kita tidak lagi menghargai metafora atau hiperbola. Kita menaruh diskusi pada level semiotika yang sebenarnya terlalu trivial. Ketika Sandiaga mengatakan "Tempe setipis kartu ATM" kita menjadi responsif, secara literal, memahami retorika itu. Atau ketika Jokowi dalam video pembukaan Asian Games 2018 menggunakan stuntman pada adegan berkendara motornya. Kita membangun ide "kepalsuan" berdasarkan itu. Tujuannya adalah kepentingan politik, yang sayangnya sungguh sangat tidak elegan.

Kita butuh peningkatan kualitas lirterat publik. Ini bukan lagi kemampuan yang sekadar bisa membaca dan menangkap makna secara semantik berdasarkan kamus. Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat perlu sesekali membalik pola pikirnya dari makna kata yang digunakan dalam produksi tuturan ke tuturan yang menggunakan kata tertentu untuk mendukung maksud yang ingin disampaikan. Sehingga kita bisa peka, seperti contoh, ketika kekasih yang jauh di sana mengirim pesan "Kamu lagi apa?" kita bisa segera memesan tiket kereta Jumat besok untuk segera pulang menuntaskan rindu (maaf, curhat). Dengan begitu tuturan dan aksi yang kita lakukan bisa lebih bermakna.

Dengan peningkatan kualitas literat macam itu, maka diskursus yang lebih substansial bisa terus berlanjut. Ketika kita sudah tidak lagi mempermasalahkan paradigma berbahasanya, pemilihan dan penggunaan katanya, atau bagaimana tuturan diproduksi dengan struktur tertentu, dan kita mampu menerima ide yang dimaksud, maka kita bisa melanjutkan diskusi dengan memberi timbal balik. Dengan begitu, kontestasi politik ini bisa menjadi lebih elegan. Bukan lagi mempermasalahkan "kesalahan berbahasa" dan memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan lawan politik. I mean like, you don't give an up for yours, but down for the other's, do you? 

Maaf saya menggunakan terlalu banyak kata "Kita" sebagai subjek, semoga kita tidak tersinggung.

Youtube is a nice place to put my works. Well, actually I just knew that the day of video publication is the day when I make my video 'Public', but nevermind. However, it's too nice and clean (from the side of the term of use and guidance) while crowded and chaos (from the content). Youtube is such a good boy, no porn, no violence, etc, while it disagrees with the way of ex-negativo: like we provide something bad to make something good. Yet, no! No violence is the must.


 

I see some girls are too shy to dance, don't know why.

I'm 50% sure that I always dance every morning in my 20. While sometimes I imagine that when I'm 60, after all of my works, I will play a nice turntable in my front room. Then, I and my partner dance like we're young.

Eh, Girls, take a look at this!




Aren't they cool?

I know that having a partner is quite tough for me, like, I still don't get it what makes Summer decided to get married. To have a perfect soul and perfect body as a partner is most people's dream, who intelligently qualified, lots of money to pay bills, and can build happiness in any way. But as Tom finally realised that, we can't always see only what makes us happy, only the good scenes. Lately, I realised. Yet, twisting on your boots or heels is always the best!
Previous PostOlder Posts Home