A BLOG BY

ADHY NUGROHO

Bahasa dalam Politik Praktis: Masalah Kita Gitu-Gitu Doang

Leave a Comment

Gambar: Tsamara saat berpose di depan kantor polisi. Saya lupa pada saat apa, hehe. Tulisannya saya edit. Semoga saya tidak dilaporkan atas pelanggaran hak cipta apalagi pencemaran nama baik. Huft.

Ahok dipenjara. Katanya ia telah melakukan penodaan terhadap agama Islam dengan, katakanlah mempergunakan dengan tidak benar salah satu ayat dalam Al-Quran. Ia menyampaikannya di hadapan masyarakat, yang intinya mungkin seperti ini: "Jangan mau dibodoh-bodohi dengan ayat supaya tidak memilih pemimpin yang tidak seiman". Anda mungkin memiliki interpretasi lain, namun dalam hal ini, itulah interpretasi saya.

Kita bisa melakukan analisis, baik hanya sebagai penerima teks singkat yang dituturkan Ahok, atau secara sadar berempati sebagai seseorang yang memproduksi bentuk retorika itu. Maka dari itu, kita tidak bisa melepaskan konteks pada saat teks tersebut diproduksi. Katakanlah, itu diproduksi pada masa kampanye; sebagian masyarakat pemilih beragama Islam; lawan politiknya beragama Islam; lawan politiknya memiliki basis pendukung dari beberapa organisasi massa Islam; atau memang di masyarakat terjadi praktik dakwah dengan penggunaan ayat tersebut dengan tujuan tertentu.

Dengan tujuan mendapat suara pemilih dan memperhatikan konteks, maka retorika Ahok berguna, praktikal. Juga sebaliknya, dengan konteks yang ada, lawan politiknya membangun diskursus baru, yakni Ahok telah melanggar norma, baik agama maupun hukum (yang kebetulan memang ada). Atas dasar ini, setelahnya, pertukaran ide dan rasionalitas mereka sebagai pemilih berkutat pada hal semacam pemimpin Islam atau tidak Islam dan penoda agama dan yang terzalimi. Pertukaran ide menjadi tidak lebih substansial dari itu. Beberapa orang mungkin akan merasa diremehkan, bagaimanapun juga, mereka terpaksa memindahkan (jika tidak ingin menyebut menurunkan) parameternya pada level dimana diskusi publik berada.

Hal yang sama terjadi pada Rocky dengan kata "Fiksi"-nya. Dengan konteks yang ada, katakanlah ia adalah orang dari kubu oposisi pemerintah (tanpa perlu pemetaan, saya anggap kita sudah tahu bagaimana hubungan-hubungan ini terbentuk) seolah ini menjadi bentuk balas dendam. Akhirnya, keduanya hanya berkutat pada pemaknaan yang dipaksakan dari masing-masing kubu. Diskusi tidak lagi dilanjutkan dan nihil progres karena publik akan kembali pada permasalahan makna, menghiraukan konstruk yang dibangun dengan segala kondisi yang sudah dikemukakan oleh penutur. Dengan kata lain, publik tidak peduli lagi pada substansi, pada sense, pada ide, malahan memanfaatkan struktur formal (dan logika) Bahasa untuk mencari kesalahan dan memanfaatkannya untuk pemenuhan kepentingan politik praktis.

Kita tidak lagi menghargai metafora atau hiperbola. Kita menaruh diskusi pada level semiotika yang sebenarnya terlalu trivial. Ketika Sandiaga mengatakan "Tempe setipis kartu ATM" kita menjadi responsif, secara literal, memahami retorika itu. Atau ketika Jokowi dalam video pembukaan Asian Games 2018 menggunakan stuntman pada adegan berkendara motornya. Kita membangun ide "kepalsuan" berdasarkan itu. Tujuannya adalah kepentingan politik, yang sayangnya sungguh sangat tidak elegan.

Kita butuh peningkatan kualitas lirterat publik. Ini bukan lagi kemampuan yang sekadar bisa membaca dan menangkap makna secara semantik berdasarkan kamus. Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat perlu sesekali membalik pola pikirnya dari makna kata yang digunakan dalam produksi tuturan ke tuturan yang menggunakan kata tertentu untuk mendukung maksud yang ingin disampaikan. Sehingga kita bisa peka, seperti contoh, ketika kekasih yang jauh di sana mengirim pesan "Kamu lagi apa?" kita bisa segera memesan tiket kereta Jumat besok untuk segera pulang menuntaskan rindu (maaf, curhat). Dengan begitu tuturan dan aksi yang kita lakukan bisa lebih bermakna.

Dengan peningkatan kualitas literat macam itu, maka diskursus yang lebih substansial bisa terus berlanjut. Ketika kita sudah tidak lagi mempermasalahkan paradigma berbahasanya, pemilihan dan penggunaan katanya, atau bagaimana tuturan diproduksi dengan struktur tertentu, dan kita mampu menerima ide yang dimaksud, maka kita bisa melanjutkan diskusi dengan memberi timbal balik. Dengan begitu, kontestasi politik ini bisa menjadi lebih elegan. Bukan lagi mempermasalahkan "kesalahan berbahasa" dan memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan lawan politik. I mean like, you don't give an up for yours, but down for the other's, do you? 

Maaf saya menggunakan terlalu banyak kata "Kita" sebagai subjek, semoga kita tidak tersinggung.
Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment